3.2.09,5:35
Sebaris Tato di Punggung Seorang Lelaki Bisu
Dia, seorang laki-laki bisu, tahu semenjak mula jari-jari
perempuan buta tukang pijat itu pandai menanam pohon
maka dia menyediakan lapang tubuhnya sebagai ladang.

“Taburlah, tebarlah, bebiji pohonmu, perempuan buta!
Musim hujan kelak datang mengantarkan musim semi,
waktunya aku semai semua bunga dan buah-buahan.”

Tetapi hari-hari yang memanjang selalu saja kosong
serupa merah lidahnya yang tak mengenal huruf-huruf
tak tahu bagaimana caranya memanggil musim hujan.


Dia juga tahu semenjak mula jari-jari perempuan buta
tukang pijat itu pandai membaca, maka dia putuskan
menanam kerikil kecil di ladang punggungnya sendiri.

Suatu hari, sebuah kalimat singkat, sebuah tato
berhuruf braille, pelan-pelan terdengar dari jari-jari
perempuan buta itu: alangkah aku mencintaimu!

Sebaris tato braille itu pemanggil hujan paling mantra
seketika air berjatuhan dari mata perempuan buta itu
isyarat akan datangnya musim panen yang dinantikan.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 11 comments
,3:45
Mati Mata dan Gerhana Mata
/1/

Koran mengabarkan banyak orang panik
listrik akan padam selama beberapa malam,
mereka takut pada gelap, takut mati lampu

“Aku baik-baik saja bertahun-tahun mati mata,”
kata seorang buta sambil tertawa membaca berita.

/2/

Televisi menyiarkan banyak orang terkesima
menyaksikan peristiwa langka gerhana matahari
malam tiba-tiba menyala pukul duabelas siang

“Mereka tak tahu setiap hari aku lihat gerhana mata,”
kata seorang buta sambil menangis menonton berita.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 3 comments
,3:44
Buta Sempurna
Dik, jika saja aku buta
kau tak perlu menggunakan pupur,
gincu atau warna-warni pita
untuk aku sebagai pelipur

Dik, jika saja aku buta
kau tak perlu cemburu dan mahfum
pagi hari sebelum berangkat kerja
aku melumuri tubuh dengan parfum

Dik, jika saja aku buta
bersamamu aku bisa membayangkan
alangkah cantik dan gagah anak-anak kita
anak-anak tangga menuju tinggi kehidupan

Dik, jika saja anak-anak juga buta
mereka tak perlu memaksa diri bergaya
seperti remaja yang mereka lihat di kotak kaca
dan biaya listrik tidak membuat kita tersiksa

Dik, jika saja aku buta
dan anak-anak juga buta
seperti sepasang mata yang kau punya
alangkah sempurna keluarga kita!
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 2 comments
,3:39
Huruf Jerawat
kau meraba wajahku yang merah
dan kau temukan jerawat

sejak saat itu
biji-biji braille
di sajak-sajak cintamu
kau sebut huruf jerawat yang mekar
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 2 comments
30.1.09,18:36
Aku Menulis Puisi dan Mencintai Kau seperti Pepatah Lama Itu
Seperti air di daun talas--

Lihatlah, dengan tulus daun talas
membiarkan benang hujan
atau genang embun
yang jatuh cinta padanya
tetap saja air bening
sebening matamu
sebening kataku

seperti aku menulis puisi
seperti aku mencintai kau
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 4 comments
29.1.09,1:03
Jika Ia
:Diah Mashitah

jika ia terpaksa berpisah dengan aku atau
ia menanggalkan janji dan meninggalkan aku
—mungkin dengan seorang lain ia menikah
kemudian ke sebuah kota jauh ia pindah
mengikuti suami yang bekerja di sana

sungguh-sungguh, seluruh sisa usia yang aku punya
habis hanya buat menyatakan mimpi masa kecilku:
pemain biola, perancang busana dan penulis obituari
ketiganya selalu ia namai lelucon yang tidak mampu
membuat seorang pun di dunia tertawa, termasuk dirinya
(meski setiap usai mengatakan itu ia sakit perut tertawa)

kalender atau waktu atau apapun namanya
akan menjerumuskannya jadi renta dan lupa
pada ciuman yang kami curi di toilet mesjid,
sebuah es krim yang kami jilat bergantian
dan bahkan namaku yang hurufnya sedikit

aku terus menggesek senar biola
atau mengawinkan benang dan kain
atau mengata-ngatai kematian
dan sebab itu seluruh ia masih jelas
bahkan huruf terakhir yang ia sebut
kali pertama menjanjikan kesetiaan

suatu kala kelak ia tak akan pernah tahu
pakaian yang ia kenakan dijemput maut
pernah membuat jemariku tertusuk mata
jarum berkali-kali saat menjahitnya

suara biola yang mengantar mayatnya
ke pemakaman: tangisku

juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuknya
yang dimuat di koran persis di samping obituariku sendiri
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
28.1.09,8:36
Sajak Hasan Aspahani
Mataku, Mata Bawang, Mata Pisau

: Aan M Mansyur

/1/
PADA lapisan ketiga, aku menemukan mata,
aku dan bawang itu lalu bertatapan, lama

Aku letakkan pisau di sisinya, kulihat mata
itu meneteskan air mata. "O, siapa yang
mengupas kelopak matamu?" tanya bawang itu.

O, begitu burukkah tangisku,
sampai ia tahu air mataku?

/2/
MATAKU, mata bawang, tiba-tiba silau oleh sinar
amat terang.

"Apakah harus kupejamkan mataku?" tanya pisau itu.

"Jangan," kata bawang dan aku, nyaris bersamaan.

Lalu, bawang itu memejamkan matanya
Seperti pejam yang tak akan lagi membuka

Tinggal mataku dan mata pisau bertatapan,
tak lama... Dan kuraih lagi dia...
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 2 comments
27.1.09,3:24
Bawang Mereka adalah Puisi Kita atau Sebaliknya
:Hasan Aspahani

1.


Dia (apakah sangat berbahaya menyebut namanya di dalam puisi?)
perempuan pertama yang membuatmu takjub pada gagang telepon.
Alangkah ampuh benda itu mampu mengantar getar hingga ke dada
dan suaranya meninggalkan gema lama di telingamu, puluhan tahun.

Dia perempuan pertama yang membuatmu menulis puisi cinta
sekaligus pertama membuatmu sangsi pada kekuatan kata-kata
sebab akhirnya dia lebih memilih menikahi lelaki penjual bawang.


2.

Dia (namanya beberapa kali sengaja aku sebutkan di dalam puisi)
perempuan pertama yang membuatku takjub pada gagang telepon.
Katanya benda itu mampu mengantar getar suaraku ke tempat jauh
dan tentu mampu menyentuh telinga orang yang aku rindu sungguh.

Dia perempuan pertama yang membuatku menulis puisi cinta
sekaligus pertama membuatku sangsi kata-kata bisa menghiburnya
sebab akhirnya dia harus membesarkan aku dengan menjual bawang.


3.


Kau dan aku sampai sekarang masih menulis puisi, menulis puisi cinta,
dan tak lagi pernah menyangsikan kekuatan kata-kata. Sebab kata-kata
sungguh sanggup membuat tertawa, membuat kita meneteskan airmata.


4.


Diam-diam sekarang kau membayangkan dia merindukan puisi cintamu
sambil mengupas kulit bawang agar airmatanya tak menimbulkan tanya.
Dia, mantan kekasihmu, yang kehilangan kau setelah menikahi lelaki lain.

Diam-diam sekarang aku membayangkan dia merindukan puisi cintaku
sambil mengupas kulit bawang agar airmatanya tak menimbulkan tanya.
Dia, ibuku, yang kehilangan setelah ayahku menikahi perempuan lain.


5.


Di kulit-kulit bawang mereka menyembunyikan kerinduan
Sementara di kulit-kulit puisi kita membunyikan kerinduan
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
,3:21
Sajak Hasan Aspahani
Apa yang Kamu Tak Tahu Tentang Balikpapan

: Aan M Mansyur


1. Kantor Redaksi Surat Kabar


KANTOR itu ia capai dengan dua kali berganti
angkutan kota. Tentu tak sempat ia singgah
di tempat kos untuk menukar seragam sekolah.

Pelajaran tambahan di situ ia dapatkan, banyak
guru, satu mata pelajaran: Ilmu Pengetahuan
Kehidupan (langsung praktek, dan langsung ujian,
sejak hari pertama ia mendaftar dengan 40
lembar kartun yang ia gambar sendiri semalaman)


2. Sekretaris Redaksi yang Cantik

IA membuat kantor itu seperti miniatur surga
yang dijaga malaikat-manis, berbibir bak segelas
sirup di kantin sekolah sehabis upacara bendera,
mereka rela berebut demi mengecup merah dan
mengecap manisnya, langsung dari bibir-(gelas)-nya.


3. Dia Ditelepon oleh Seseorang

ITU percakapan lewat telepon pertama dalam hidupnya.
Si malaikat-manis menerima, dan senyum manis di
bibirnya itu menular ke matanya, menular ke pipinya,
menular ke gigi-giginya, "Telepon buatmu (ia
sebut nama adik kelas yang memenuhi otaknya). Ayo,
dia siapa? Cewekmu, ya?" Sebuah pelajaran penting
ia terima: Cinta membuat kemanisan menular ke mana-mana.

"Halo.."
"Ya.."
(dia tak tahu arti kata Halo, dan tak tahu
apakah harus menjawab dengan kata itu juga)
"Aku cuma mau tahu apakah kamu sudah sampai
di kantormu..."
"Ya..."
"Sudah, ya..."


Ia serahkan lagi gagang telepon, ke si malaikat-manis,
dengan gemetar yang makin ada. "Kamu grogi, ya?
(katanya, dan senyumnya makin menular ke mana-mana)...


4. Malam Harinya Dia Menulis Sajak

IA menulis sajak tentang seorang lelaki SMA bermimpi
menjadi cupid, menghabiskan semua anak panah, menikam
dadanya sendiri. Sajak itu, esok malam, ia bacakan
bagi si adik kelas yang kemarin meneleponnya.

Orang-orang yang antre heran, kenapa dinding-dinding kaca
telepon umum itu seperti bergetar dan bercahaya.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 2 comments
26.1.09,18:27
Seorang di bawah Pohon Meminta Selembar Tissue
(sore di sepi taman
di bawah sebuah pohon)

ia menumpahkan airmata

karena seseorang yang meninggalkannya
dan seseorang lain yang mungkin akan meninggalkannya

apakah anda punya selembar tissue? ia bertanya

(aku bayangkan pohon di atasnya
runtuh dan jatuh di tubuhnya)

hanya dibutuhkan airmata
buat membersihkan airmata

tissue tak mencintai pohon, kataku
lalu kembali berlari-lari kecil menjaga kesehatan
karena besar mencintai diri dan istriku
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments