18.6.10,14:48
Pada Persidangan Pertama
darimana pembelaan sebaiknya dimulai?

aku ingat. aku sedang berada di suatu kafe
menikmati batang-batang rokok, kopi pahit
dan kesedihan yang tidak bisa membebaskan
diriku dari cinta kepada seorang perempuan,
ketika seseorang yang kalian sangka aku itu
menuliskan puisi yang kini kalian baca ini.
dia menulis di kamarnya yang penuh cahaya
dan hidup yang redup juga rencana memetik
negara serta rak-rak buku berisikan pameran
benda-benda seni buatan luar negeri

dan sebuah bukti buat meyakinkan...

dan, percayalah, aku akan menunjukkan bukti
percakapan dengan perempuan yang aku cintai
itu, yang mencintai pria lain yang bisa membeli
rumah dan perabot mewah...

aku tahu kisah perselingkuhan selalu lucu,
dan mereka, dalam hati, ingin tertawa—
namun mitos bisa membuat mereka setuju
dalam diam


...sementara uangku cuma mampu menjadi
batang-batang rokok dan kopi pahit yang tambah
pahit saat diminum sambil berpikir perihal perihnya
kegagalan yang mengacaukan hidup berisi pameran
barang usang yang diproduksi berulang-ulang sejak
zaman adam sakit berkali-kali jatuh mencintai
hawa—dan sebaliknya

dan mengutip pikiran-pikiran dari kepala
orang-orang yang beku dalam buku-buku

sementara dia yang kalian duga aku, yang kalian
tuduh berniat menjatuhkan negara ke bumi, tidak
pernah berpikir untuk menikah. dia tidak percaya
institusi. semua institusi, termasuk pengadilan ini
dan pernikahan, cuma mulut-mulut lain negara
yang lihai melumat mulut rakyat sendiri

kemudian aku mesti mengatakan berulang kali
hal-hal yang bisa dikabarkan koran di rubrik
hiburan—untuk dikaburkan keriuhan publik

iya. aku sembunyi di riuh kafe, ketika orang
yang kalian sangka aku sedang menuliskan
puisi ini. aku sibuk memikirkan cara mencuri
istriku yang dicuri pria lain dan barang-barang
mewah. aku selalu berusaha menikmati kesedihan
dengan menghabiskan batang-batang rokok, kopi
pahit juga malam yang terus berjaga-jaga
seperti para peronda yang selalu curiga

dan ini yang seolah-olah intinya


aku tidak punya waktu memikirkan negara
yang tidak matang tapi siap jatuh membusuk
ke bumi, yang mungkin akan tumbuh menjadi
negara mati. bilik penjara tidak pernah ampuh
membunuh kesedihan—dan dia yang kalian
sangka aku akan tetap menulis puisi ini, puisi
yang tidak pernah selesai ini

dan diakhiri dengan sedikit memohon...


sungguh, kalian betul-betul keliru. tuan-tuan
salah tangkap. maka, tolonglah, bebaskan aku.
agar aku segera bisa dengan riang melanjutkan
kesedihan

semoga mereka percaya semua ini. jika tidak,
pada sidang selanjutnya aku harus membela
dengan membelah diri menjadi lebih banyak.
tetapi, ah, mereka tahu, sisi paling menarik
dari keyakinan adalah dusta
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 8 comments
15.6.10,12:50
Surat Cinta yang Ganjil
Surat Cinta yang Ganjil

1 "Cintaku yang besar, cintaku yang tulus,
2 telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3 berkembang setiap hari. Ketika melihatmu,
4 aku tidak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5 satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah
6 mengalihkan mata ke gadis lain. Aku tak lagi ingin
7 menikahkan aku dan kau. Percakapan terakhir kita
8 sungguh, sungguh sangat membosankan dan tak
9 membuat aku ingin bertemu kau sekali lagi.
10 Selama ini, kau selalu memikirkan dirimu sendiri.
11 Jika kita menikah, aku tahu aku akan menemukan
12 hidupku menjadi sulit, dan aku tidak akan menemukan
13 kebahagiaan hidup bersamamu. Aku punya satu hati
14 untuk kuberikan, tetapi, sungguh, itu bukan sesuatu
15 yang ingin aku berikan untukmu. Tak ada yang lebih
16 bodoh dan egois daripada kamu, dan kamu tak pernah
17 memperhatikan, merawat dan mau mengerti aku.
18 Aku sungguh sangat berharap kamu mau mengerti
19 Aku berkata jujur. Kau akan baik sekali jika
20 kau anggap inilah akhirnya. Tidak usahlah
21 membalas surat ini. Surat-suratmu dipenuhi
22 hal-hal yang tidak menarik bagiku. Kau tak punya
23 cinta yang tulus. Sampai jumpa! Percayalah,
24 aku tak peduli lagi padamu. Jangan pernah berpikir
25 aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu."


n.b:
---Surat ini sengaja diberi angka di setiap barisnya, agar kamu bisa membedakan mana baris ganjil, mana baris genap. Bacalah baris-baris ganjil saja dan hapuslah baris-baris genapnya. Ini memang sebuah surat cinta yang ganjil.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 9 comments
29.5.10,17:33
Di Hari Kematian Istriku yang Bisu
tidak ada, tidak akan ada kesedihan terlahir sama
maka itu tidak pernah ada airmata mengalir sia-sia

dan hari ini telah terlahir kesedihan dari kematianmu
khusus buat menikahi dan membahagiakan airmataku

sungguh, mataku yang buta hanya mencintai matimu
yang tidak tahu mengucapkan selamat tinggal, istriku!


Bandung, 2010
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
25.5.10,07:00
Jaket yang Memeluk Aku Sekarang
kita tukar dengan uang terakhir di sakuku kala itu,
selembar uang 100 ribu rupiah. kasir memberi kita satu
koin kembalian. kau berkata, "suatu waktu akan kita
lemparkan ke udara untuk mengundi."

berwarna tanah. kau yang memilih. aku setuju
bukan tak ada pilihan lain. tapi ada luka kecil
di dadanya, seperti seseorang pernah menyakitinya.
aku suka merawat luka, termasuk lukamu.

sering kita tinggalkan di kamar tidur.
atau kita tanggalkan ke lantai sebelum tidur.
sering memelukmu ketika kau diserang dingin atau angin.
atau kau peluk ketika sedang sendiri dan ingin.

sekarang erat memeluk aku, tahu aku sedang sendiri
dan sekarat. luka di dadanya telah melebar, menyebar
luka ke bagian lain tubuhnya, juga tubuhku. rasanya aku
mulai tak suka merawat luka. di sakunya ada selembar uang
100 ribu rupiah. aku terus ragu apakah perlu menggantinya
atau tidak. tapi tidak ada koin.tidak ada koin.


Bandung, 2010
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
,05:07
Kepada Hawa
aku merelakanmu menjauh,
merelakanmu terjatuh
ke tempat sampah
bagai sepotong apel merah
yang di geligimu pernah
berdarah

adakah cinta yang jatuh
kepadamu melebihi cintaku?

lelaki yang engkau cintai itu mati
dan tak membawamu ke makamnya
sementara aku bertahan hidup,
bertahun-tahun sanggup tak mati
oleh rindu--dan menanti di surga

Hawa, aku masih ular yang setia
mencintaimu sepanjang usia tuhan.


Bandung, 2010
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
16.5.10,17:57
Sebuah Buku Kecil yang Aku Tuliskan Ketika Berulang Tahun tentang Lelaki dan Binatang-Binatang dalam Jasnya
Pengantar

aku menulis buku ini sepulang bertemu penjahit.
aku pikir setelah berulang-ulang berulang tahun,
tak salah menghadiahi diri sendiri satu stelan jas.
kadang aku merasa sebagai penjahat yang perlu
pakaian yang bikin tampan dan tampak sopan.

di usia-usia rawan yang ditarik-tarik dari depan
dan belakang ini, memiliki jas adalah kebutuhan.
makin banyak undangan perjamuan yang datang.
meskipun kemungkinan jas itu cuma aku kenakan
di hari kematianku yang diramalkan sudah dekat.


Bab 1

ada pot berisi bebunga tiruan duduk di atas meja.
ada pulpen sedang bekerja menyelesaikan bagian
meja yang tak sempat dirampungkan oleh tukang.

dan laci terkunci meja itu, tentu saja, menyimpan
rahasia, bencana rencana dan mimpi yang hampa.

sementara lelaki berjas di kursi kurus jangkung itu
ialah seorang yang membayangkan diri aristoteles.
dia membaca kalimat ‘manusia adalah binatang …’


Bab 2

laki-laki berjas itu berdiri di atas sepatu lancipnya
sembari menopang kepalanya yang besar berisikan
kelinci (mungkin jantan) yang berisik berbulu putih
bagai selimut baru dicuci dan berhidung sehitam aib.

dari saku jasnya ada yang seolah sudut saputangan.
tapi aku tahu itu kuping tikus yang memerlukan diet.
di dadanya seekor ular tidur melingkar seusai makan.
dua tangannya terkepal—apakah dia hendak melepas
kawanan serangga ke udara yang luas tak terhingga?

tapi dia tak sekalipun pernah salah mengeja namanya.
dia menyentuh dan tersentuh kesedihan bunga-bunga.
sakitnya sembuh oleh senyum si asing yang melintas.
dia tidak marah celananya disinggahi debu dan bulu
dari bangkai yang sudah lama dibingkai masa lalu.


Bab 3

tanah sudah sekeras beton karena itu jangan tunggu
ada yang tumbuh selain pohon yang sudah berubah
menjadi tangga, yang tinggi, ke langit yang seolah-
olah. begitulah yang diyakini oleh lelaki berjas itu.

dia menapak satu demi satu anak tangga membawa
ribuan ekor burung di balik sepasang ketiaknya—
dia tahu puncak tertinggi adalah jatuh lagi ke tanah.

dia ingin mengenakan burung-burung sebagai parasut.
sejak kanak-kanak dia bercita-cita menjadi satu berita.


Bab 4

dia sengaja tak membawa satupun binatang ke mimbar
meski memakai jas yang sama. pikirnya: membiarkan
mereka tinggal di rumah sesekali adalah salah satu cara
menjinakkan. mereka harus lebih jinak dibanding wanita.

dia membaca pidato yang dikutip dari naskah kakeknya.
di atas kepalanya tiba-tiba telah berdiri sebuah istana,
tempat lahir semua binatang yang dia tinggalkan di rumah.

orang-orang dengan kepala terbuka di depannya bertepuk
tangan tapi dia tak bisa mendengarnya sebab dia telah jauh
hilang ke masa lalu kakeknya yang dia lupa siapa namanya.


Bab 5

suatu pagi kelincinya sakit gigi. dia pergi ke kantor
tanpa mengenakan kepala. tetapi koper dan sakunya
penuh dengan tikus. dan celananya berisi kaki kijang
yang paling gesit berlari. dia sangat senang kelincinya
sakit gigi, dia tidak mau berbasa-basi dan tersenyum.

hari itu, di jalan, dia berpapasan dengan orang-orang
buta. hanya orang-orang buta. yang tidak buta sedang
malas meninggalkan tempat tidur. dia sedang menang.


Bab 6

ketika cuaca buruk di negerinya sedang memerahkan
angka kalender, dia akan bekerja di satu kamar hotel
(tentu saja dia mengajak binatang-binatangnya juga.)

di dinding kamar hotel itu dia menggambar bayangan
dirinya. dia ingin seorang raksasa yang rakus tumbuh
dari dinding itu. dia tak pernah lupa membayangkan
dia jatuh cinta dan menikah dengan seorang wanita
yang akan menghadiahinya masalah masa depan.

untuk tumbuh, anak-anak butuh lebih dari sepasang
orang tua. itulah, itulah yang selalu menghantuinya.


Bab 7

dia kadang menggunakan kendaraan umum agar bisa
menyamar sebagai si siapa saja. itu dia lakukan saat
jasnya sedang ada di binatu dan binatang-binatangnya
sedang cuti tahunan merayakan hari-hari besar mereka.

dia terlihat santai dan santun bukan main karena takut.
sebab dia kehilangan cakar. sebab dia kehilangan taring.
sebab dia kehilangan kaki yang kuat berlari. sebab dia
tidak mampu melilit, menjerat, mengerat dan menjilat.

saat-saat seperti itu sesungguhnya dia sungguh kesepian.
sebab tak ada seorangpun mau menyapa dan tersenyum
kepada orang-orang yang jasnya sedang berada di binatu.


Bab 8

dia memutuskan memasang kupu-kupu di kerah jasnya.
dia sedang jatuh cinta. setiap dia duduk atau berbaring,
dia selalu membayangkan seorang perempuan sedang
membayangkan dirinya tersenyum. perempuan berbeda,
bukan yang melahirkan anak-anaknya yang tidak peduli.

di muka cermin dia kerap tersenyum, seolah menghadapi
seorang perempuan yang amat susah dirayu dan mencintai
lelaki lain yang jasnya memiliki lebih banyak kupu-kupu.

dia kasihan kepada dirinya sendiri dan kepada jasnya
yang sudah terlalu sering dicuci di binatu langganannya—
juga seluruh binatang peliharaannya yang semakin tua.


Bab 9


sebenarnya dia sudah meminta berkali-kali kepada dirinya
agar dipensiunkan saja. apalagi dia sudah membeli peti mati
berukuran raksasa yang bisa menampung sekebun binatang.

dia juga sudah berkali-kali meminta dirinya memberi gelar
pahlawan dan seluruh kekayaannya dimuseumkan agar bisa
jadi pelajaran sejarah. setelah meraih cita-citanya jadi berita,
dia ingin sekali masuk ke dalam buku sejarah—tak masalah
jika buku sejarah itu penuh hal tiruan seperti bunga di atas
mejanya yang beberapa bagiannya tak pernah diselesaikan
pulpen yang sudah berhenti bekerja karena kehabisan cinta.


Penutup

aku tidak tega menulis semua nama binatang yang hidup
di balik jas lelaki itu sebab lelaki berjas yang kukisahkan
dalam buku ini adalah ayahku. karenanya aku menanggung
akibatnya: sejumlah binatang yang tak aku sebut itu kini ada
di balik jasku. suatu saat seseorang akan menuliskan mereka,
mungkin anakku saat berulang tahun dan memiliki jas baru.

Makassar, 14 Januari 2010

CATATAN: Sajak di atas adalah interpretasi bebas dari sejumlah drawing karya Saul Steinberg yang menjadi ilustrasi di buku Elliot Aronson, The Social Animal (Freeman, 1996).
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 5 comments
,17:55
Membayangkan Kematian Kamu | Imagining Your Death
Membayangkan Kematian Kamu

Jangan, Sayang, jangan mati!
Meski saya akan mati juga nanti.
Kamu pasti akan masuk surga
sementara saya tak yakin bisa sampai di sana.

Kamu mau saya kupaskan buah-buah apel?
Kamu mau saya bacakan beberapa puisi cinta?
Kamu mau saya padamkan bintang-bintang
yang mengganggu mimpi-mimpi kita?
Saya mampu.

Ayo, sayang, bangunlah! Buka mata!
Kamu bisa merasakan saya hidup di dalam kamu.
Cintaku, cintaku yang sangat besar ini
akan selalu cukup menghidupi kita berdua

Kamu mau sehampar laut dengan perahu-perahu berlayar?
Kamu mau mendengar lagu-lagu baru atau lagu-lagu lama?
Kamu mau saya membunuh anjing-anjing tetangga
yang mengganggu mimpi-mimpi kita?
Saya mampu.

Kamu mau lampu itu seperti matahari terbit?
Kamu mau ada gunung di balik kaca jendela?
Kamu mau hujan menangis atau menyanyi?
Untuk kamu semua aku mampu.

Tapi, Sayang, jangan mati!
Atau tiup nafas terakhirmu kuat-kuat
untuk saya hirup, dan kamu bisa melanjutkan hidup
di dalam aku.

Tapi, Sayang, jangan mati!
Jangan mati!
Jangan…



Imagining Your Death

Please my love, don’t die
Though I know I too will die later
You will be in heaven
I am not sure I could make it

Do you want me to peel some apples for you?
Do you want me to read some love poems for you?
Do you want me to turn off the stars
that bother our dreams?
I can do them all, my love

Please my love, wake up, and open your eyes
You can feel me living inside you
My love to you, my enormous love to you
will give life for us both

Do you want an ocean with sailing ships?
Do you want to listen to new songs or old songs?
Do you want me to kill the neighbours’ dogs
that keep barking and bother our dreams?
I can get them all

Do you want that rising sun lamp?
Do you want a mountain behind the window glass?
Do you want the rain weeping or singing?
For you, I can make them all

But please my love, don’t die
Or as strong as you could, blow out your last breath
For me to breathe in, then you could stay alive
Inside me…

But please my love, don’t die
Please don’t die…
Please don’t…

*diterjemahkan oleh Rahmat Hidayat
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
,17:54
Puisi yang Ditulis Ibuku | A Poem That My Mother Wrote
jawaban akan menggapaimu nanti
mengapa waktu begitu lihai menyakiti
dan mengapa tak kutemukan titik kembali
untuk membayar semua hidupku yang pergi

mengapa aku terlalu mengangankan
keluar dari sini, terlalu menginginkan
keluar dari diriku?

aku memanggil,
aku berteriak kepadamu.
namun tak ada yang menimpal.
kini aku memanggul
kata-kataku sendiri

setiap orang bisa menuduhku
sebagai si-yang-paling-gila
sehabis engkau dikuburkan
dan cuma namamu tersisa
bagi ingatan sejumlah orang.

tapi aku memiliki kenangan.
aku tidak pernah gila.
aku tahu apa yang masih kupunya lengkap
pula apa yang telah lenyap.

aku menarikmu ke lenganku
ke dalam lengangku.
namun kau tak paham
bahwa sepenuhnya aku tahu itu,
kau tak bersamaku dan selalu bersamaku.

karena selama kita hidup
seperti sungguh hidup
membawa cinta kita
ke dalam parah perih terbakar api
untuk mencairkan darah kita
saat tiba-tiba dingin-beku
atau mengeras seperti batu
agar tersusun tulang-tulang kita
lagi di tempatnya.

untuk melupakan bahwa aku menangis
meskipun kau betul-betul tak tahu.

akan kusampaikan padamu nanti
bagaimana kabar cucu-cucumu.
mengapa aku menggerutu sepanjang hari,
menyiapkan untukmu secangkir kopi,
memandangi kursimu
dan sama sekali tak mengerti
mengapa kursi itu kosong.

satu pagi aku bersedih
dan tak tahu mengapa.
di lain pagi aku bahagia
menyadari aku masih cantik.
memiliki pinggang ramping,
sepasang lengan, bunga-bunga,
botol-botol parfum, kehangatan,
kegesitan dan janji-janji

lengan lengang akhirnya
lebih panjang dari suara tawa,
dan itu biaya bagi harapan-harapanku—
kini aku pemilik dan pemeluk tubuh
juga keyakinanku sendiri

aku masih menemukan matahari
menghangatkan airmatamu di mataku.
kau lihat, kita berbagi perih.
aku mendesakmu mendengarku,
meskipun dari kejauhan,
aku berandai-andai kau mengenali
suaraku. berandai-andai kau tahu
siapa aku, siapa diriku.

aku tak menyesali keputusan tuhan
aku telah mencuri anak kunci
untuk milikku yang telah pergi.
bahwa aku mengasuh cinta ini

dan sesosok malaikat palsu,
di samping kematianmu,
terus saja menguatkan aku.
seperti fotomu yang hidup.
meskipun dia tahu
waktu adalah penipu.

dan aku bermimpi seperti kemarin
tentang siapa aku hari ini.
itulah mengapa sungguh susah
bagimu untuk menjawabku.
terhadap diri sendiri aku tak yakin.

suaraku akan menyentuh kupingmu, suamiku.
kau akan mendengarku, aku ada di kokleamu.
kini aku sedang menuju
dan akan sampai pada kau.



A Poem That My Mother Wrote


The answer, would reach you someday
Of why times are so good in hurting
And why I never find the turning point
To pay back my departed life

Why I wonder too much about how to get out of here,
And want too much to leave my self

I called you and I shouted at you,
But no one replied
No I have to bear
my own words

Everyone could accuse me
as the maddest one
after your funeral
And only your name remained
in the memory of some people

But I have memories,
I have never been mad
I know what I have is still intact
And know what has gone

I drag you to my arms
to my silence
But you never understand
that I am fully aware of this:
You are not with me and always with me

For as long as we live, truly live
We bring our love
to the painful burning fire
to melt our blood as it is cooled and frozen
or hardened as rocks
for our bones to be aligned

to forget that I cried
though you never know, never really know

I will tell you later,
the news about your grandchildren
Why I keep on mumbling all day long
Preparing a cup of coffee for you
Staring at your chair
And can not understand why it is empty

One morning I would be sad
And I wouldn’t know why
The other morning I would be happy
Knowing that I am still pretty, with a slim waist
arms, flowers, bottles of perfume, warmth, frolic, and promises

But the arms of silence are much longer
than the sound of laughter,
and that is the price of my hopes
now I own and embrace my body
and my faith, alone

I can still find the sun
warming your tears in my eyes
You see, we share the pain
I demand you to listen to me,
even from a distance.
I wish you could recognize my voices,
I wish you knew me, the whole me

I never regret God’s decision
I have stolen a key
for my gone belonging
And now I have to nurture this love

And a fake angel,
Beside your deathbed,
Keeps on strengthening me,
Like your living picture
even though he knows,
that time is a great cheater

And I keep on dreaming, just like yesterday
About who I am today,
And that is why it is so difficult
for you to answer me,
For I am never sure
about anything, even about my self

My voice will touch your ears, my husband
Now you will always hear me, I am in your cochlea
And now I am going to and will arrive
at your side.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
,05:37
Kepada Suami Mantan Istriku
--kepada Esha Tegar Putra

aku sering diserang keinginan bertanya
apa yang sungguh membuatmu jatuh cinta
kepada wanita yang sungguh aku cintai itu.
meskipun mungkin kau juga melihat kecantikan
yang aku lihat di wajahnya atau merasakan
pelukan lengannya yang amat pas di tubuhku,

namun aku sungguh penasaran apakah kau tahu
betapa keras dan bersalah aku telah mengubah
dan membentuknya dari sebatang pohon pemalu
dan hijau di tepi hutan menjadi meja di rumahku.

dan setelah berusaha keras mengembalikannya
seperti hendak mengembalikan meja menjadi pohon
tetapi tetap tak berhasil, sekarang dadaku diganjal
perasaan-perasaan ganjil dan terus penasaran
untuk bertanya: apa yang membuatmu jatuh cinta
kepada wanita yang tak lagi mencintaiku itu?

juga berharap menerima diriku sebagai tukang kayu
yang akan merelakan mejanya kau beli, kau pindahkan
ke rumahmu—sambil terus berdoa semoga hanya aku
yang mengetahui letak cacat yang ada di meja itu.
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
15.5.10,20:25
Mencatat Ibu Buat Ayah
1.

jika dia dengar buah-buah mangga
di belakang rumah berjatuhan.
dia selalu bertanya kepada engkau

“apakah mereka sudah matang
atau tak betah bertahan di dahan?”

tapi tubuhmu sudah bertahun-tahun
memilih diam dalam selembar foto,
tubuhmu yang tak punya bayangan.
sebab tubuhmu yang hidup pergi
menjelajah tempat-tempat tanpa alamat.

tetapi dia tetap tersenyum dan yakin
engkau semakin jauh masuk ke dalam
jiwanya yang dipenuhi mata air.

dia tabah seperti perigi.


2.

dia akhirnya membeli telepon genggam
meskipun tidak tahu berapa nomormu

dari balik kamar selalu aku dengar
dia meminta kepadamu dengan
bibir gemetar

“suamiku, dekatkan sedikit bibirmu
ke telepon. lebih dekat. lebih dekat...”


3.

aku pikir di bulan-bulan ini hujan
semata air yang bergerak vertikal
ke bawah dan ke atas bergantian

mengubah halaman dan jalan-jalan
menjadi laut yang compang-camping
tidak ada pelayaran mampu sampai

tetapi dia tidak pernah berpaling
dari keyakinannya tentang hujan:
cahaya basah, matanya dan matamu
yang berair. matamu yang di hulu
matanya yang di hilir.


4.

setiap pagi dia selalu membangunkan aku
dan menceritakan mimpinya yang sama

lautan ditumbuhi bintang-bintang
dan engkau datang mengajaknya memancing
ikan berdua di langit yang baru dan lapang.


5.

sebelum berangkat tidur aku selalu menatap
matanya, bertanya tanpa berucap.

dan dia tahu jawaban untuk pertanyaan
yang berulang-ulang aku lontarkan itu

“setia adalah pekerjaan yang baik, nak!
berangkatlah…”


6.

aku menemaninya ke pantai
dia berbaring di pasir seperti kerang
yang terdampar. tubuhnya terbuka
dan angin mencium sebiji mutiara
dari dadanya yang berkilau-kilau.

katanya engkau seorang penyelam
mampu bertahan di palung-palung dalam

itulah kenapa dia selalu datang ke pantai
menunggu kapan engkau datang menghirup
bekal menyelami hidup dari jantungnya


7.

dia memasak selalu dengan rambut
wangi yang tersisir dan terikat rapi
dia selalu ingat suatu malam sebulan
sebelum aku lahir, engkau tumpahkan
sayur dan kemarahan karena menemukan
sehelai rambut terselip di daun kemangi.

dia menyajikan makanan mengenakan
senyum dan pakaian berbunga-bunga.
setiap hari. seolah engkau akan datang
membawa dirimu yang kelaparan.

dia berdoa lalu makan pelan sambil bicara
soal cuaca dan sesekali melirik ke televisi.
dia selalu mengkhawatirkan kesehatan
dan keselamatanmu.


8.

dia suka duduk di muka cermin membunuh
wajah sendiri dengan nafas yang basah
kemudian menghapusnya dengan tangan,
menggantinya dengan wajah yang lebih cantik.

aku sering berdiri di belakangnya
sehingga dia menemukan wajahku
di hadapannya sedih dan berair

dia akan berbalik, tersenyum dan berkata:
menangis adalah upaya untuk tertawa lebih lepas.
sudah, menangislah!


9.

dia melingkari setiap angka di kalender
seperti mengikat mereka agar tak tanggal
dan di akhir tahun dia menghitungnya
sebagai kekayaan. begitu caranya dia
mengajari aku menabung.

tunggulah, katanya, akan tiba waktunya
buat dicairkan dan kita berpesta sekeluarga.


10.

dia terus bernyanyi untuk menidurkan
mata dan nadinya—dan di dalam mimpi
aku menyaksikan malaikat-malaikat riang
terbang dan hinggap dari nada ke nada.

aku selalu tidur mengenakan senyum
karena mengetahui dia selalu jatuh cinta
kepada engkau.


11.

di senja saat mendengar kabar engkau mati
sepasang matanya tak berkobar bagai neraka
sebab mata, katanya, surga bagi kesedihan

sementara kesedihan adalah kebahagiaan
yang lembut dan lembab

ibu selalu meletakkan engkau
di surga itu, ayah!
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments